Hitam-Putih Soeharto dalam Buku

Soeharto tetaplah manusia biasa. Banyak yang memuji langkah-langkahnya selama 32 tahun memimpin negeri ini, tidak sedikit pula berpandangan sebaliknya. Hitam-putih yang mewarnai perjalanan hidup mantan presiden Republik Indonesia itu tampak dalam sejumlah buku. Bahkan, beberapa di antara buku-buku itu justru kian laris di saat-saat jenderal besar berbintang lima ini berbaring di rumah sakit.Memang, seperti diakui Mudhofir Abdullah, tidak mudah menjawab hitam-putih Orde Baru –masa ketika Soeharto memimpin negeri ini.

Jawabannya, jelas Mudhofir, akan sangat tergantung pada sudut pandang, pilihan bacaan, inklinasi filsafat, kecenderungan sosio-politik, dan ideologi yang dipakai atau dimiliki seseorang. ”Karena itu, menilai Orde Baru memerlukan kecanggihan pemahaman, kejujuran, dan objektivitas,” tulisnya dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto.Awal kekuasaan Soeharto digambarkan oleh Drs HR Soemarno Dipodisastro dalam bukunya, Kesaksian Sejarah, Tumbangnya Soekarno dan Jatuhnya Soeharto. Aktivis 1966 ini antara lain menguraikan soal pertarungan ideologis-politis mempertahankan kekuasaan, prahara 1965, dan bangkitnya kekuatan Pancasila antikomunis yang kemudian Orde Baru.Toh, dalam perjalanan Orde Baru, ia melihat dua kenyataan yang berbeda.

Di satu sisi memperlihatkan apa yang disebut konsistensi ideologis dan konsistensi konstitusional. Dalam arti, Orde Baru konsisten terhadap pengakuan dan penerimaan ideologi Pancasila dan konstitusi Undang-undang Dasar 1945.Di sisi lain, Orde Baru juga memperlihatkan apa yang disebut inkonsistensi operasional ideologi Pancasila dan konsistitusi UUD 1945 dalam pragmatisme pembangunan nasional. Inkonsistensi operasionalisasi itulah, menurut Soemarno, yang membelokkan Orde Baru makin jauh dari mission sacre-nya, yaitu pelaksanaan kemurnian Pancasila dan UUD 45.

Akibatnya, Orde Baru pada akhirnya mengalami krisis total yang berdampak pada bangkitnya gerakan reformasi. Gerakan ini, disebut Soemarno, membuat Soeharto lengser dari singgasana kekuasaannya pada 21 Mei 1998. Lengsernya Soeharto diikuti sejumlah perkara hukum yang belum juga tuntas hingga ia berbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) saat ini. Tidak heran bila George Junus Aditjondro menganalogikan Soeharto memang jatuh di kasur empuk. Dalam tulisannya berjudul ”Membongkar Kleptokrasi Warisan Soeharto: Mungkinkah?” (buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto), Aditjondro juga menyebut Soeharto adalah seorang taktikus yang dalam setiap era kakuasaannya, sangat lihai menggunakan kekuasaan politiknya, sekaligus untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan para pendukungnya. Bahkan ada penulis yang dengan tegas memberi judul tulisannya ”Soeharto Penanggung Jawab Pembantaian Masal Pasca G-30-S”.Di tengah berbagai kecaman dan tudingan miring, sejumlah buku yang mencoba mendudukkan masalah tersebut pun terbit.

Soeharto sudah menjelaskan apa yang dilakukannya dalam buku otobiografi: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Selain itu, masih ada beberapa buku yang diterbitkan setelah Soeharto tidak lagi menjabat presiden. Sebutlah, misalnya, Empati di Tengah Badai, kumpulan surat-surat kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998; Simpati dan Doa untuk Pak Harto, kumpulan surat-surat (1 Januari – 30 Juni 1999); atau Beribu Alasan Rakyat Mencintai Soeharto. Bahkan, penjelasan lain tertuang dalam situs http://www.soehartocenter.com. Orang JawaSebuah buku yang terbit pada 2007, sedikit banyak membawa kita untuk mengenal sosok Soeharto. Kesan tersebut tampak di bagian pertama buku berjudul Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President tulisan Retnowati Abdulgani-KNAPP. Retnowati menulis begini, ”Ayah saya, almarhum Dr Roeslan Abdulgani, pernah berkata bahwa untuk memahami Presiden Soeharto, kita harus mempelajari orang Jawa, budaya pertanian, dan militer. Ketiga hal tersebut tidak dapat dimungkiri sangat berpengaruh dalam membentuk karakter Soeharto dari masa kecilnya sampai ia meraih puncak karier sebagai presiden negeri ini.”Orang Jawa, dia menjelaskan, adalah mereka yang berbahasa ibu bahasa Jawa dan nenek moyangnya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Orang Jawa umumnya membagi diri dalam tiga kelompok sosial, yaitu wong cilik atau kaum miskin (sebagian besar petani), priyayi (birokrat dan cendekiawan), dan kelompok bangsawan (ndara). ”Orang Jawa tradisional sangat percaya pada kekuatan-kekuatan spiritual dan ritual keagamaan,” tulisnya.Adakah hubungan spiritual itu dengan buku kecil berjudul Rahasia Supranatural Soeharto yang ditulis oleh Ki Ageng Pamungkas? Tidak jelas, memang. Tapi, dalam buku ini, Ki Ageng menulis rahasia mistik di balik kejatuhan Soeharto. Dia menyebut, dari kacamata rasional, jatuhnya Soeharto disebabkan oleh legitimasi yang memudar. ”… dari sudut pandang spiritual, beda lagi ceritanya.

Banyak cerita beredar mengenai hal ini. Isu-isu berseliweran mengenai kenapa Presiden Soeharto bisa lengser. Banyak yang mengaitkan hal itu dengan hilangnya wahyu keprabon yang mulai terasa sejak kematian Ibu Tien pada 1996. Kematian sang istri dipercaya mengubah keseimbangan kekuatan supranatural dalam diri Soeharto.”
Beberapa Buku tentang Soeharto
1. Neraka Rezim Soeharto (berisi catatan tempat pembantaian di masa Orde Baru).
2. Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto (cet II, 2007)
3. Membongkar Supersemar (cet II, 2007)
4. Misteri Pusaka-pusaka Soeharto (cet II, 2007)
5. Dunia Spiritual Soeharto (cet VII, 2007)
6. Kudeta Mei ‘98 (cet IV, 2007)
7. Perang Panglima (cet IV, 2007)
8. Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto (cet II, 2007)
9. The Smiling General (OG Roeder, 1970)
10. Dari Pradjurit Sampai Presiden (OG Roeder, 1969)
11. Anak Desa (OG Roeder, 1976)
12. Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989)
13 Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (George J Aditjondro, 2006). http://www.republika.co.id

About these ads

1 Tanggapan so far »

  1. 1

    ABDUL RAZAK berkata,

    apapuan beliau, pak Harto adalah salahsatu putra terbaik bangsa. Bekerja dan bekerja serta tetap andhap asor dan hidup lelaku sederhana.
    Banyak hal yg bisa kita tiru dan yg tdk baik tidak perlu diungkit-ungkit.

    Barangkalai perlu 100 tahun lagi untuk bisa meneukan dan tercetak tokoh seperti bapak Soeharto. Sampai saat ini tidak ada yang menandingi cara kepemimpinannya. Hal yg bisa kita contoh misalnya, pak Harto tdk pernah memecat orang yg diangkatnya, baik menteri ataupun pejabat setingkat, karena kalau ada pemimpin memberhentikan orang yg diangkatnya berarti pemimpin tersebut tidak pandai memilih atau menyeleksai dengan tepat dan cermat.

    abd razak papua


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: