Masihkan Indonesia Ada Dalam Peta Global ?

Geopolitik sebagai sebuah ilmu, sampai saat ini memang tidak banyak disentuh oleh para politisi maupun para pengambil kebijakan di negeri ini. Hal ini sangat bisa dimaklumi. Karena, selama ini memang belum ada studi keilmuan yang mengkhususkan kajiannya pada bidang studi ini. Sementara, antusiasme para pemikir atau penulis untuk melahirkan karyanya pada bidang studi inipun sangat kecil. Hal ini bisa dibuktikan dengan sangat sedikitnya buku-buku yang secara spesifik membahas bidang ini.

Dalam pergaulan dunia yang kian tidak mengenal batas kewilayahan ini, peran negara seolah terlihat semakin mengecil, digeser oleh pola hubungan internasional yang semakin menyatu.

Keberhasilan kekuatan kaum liberal-kapitalis memporakporandakan struktur bangunan ekonomi negara-negara sosialis dan komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet pada waktu itu yang membawa perubahan yang sangat dahsyat dalam sistem pergaulan dunia yang menempatkan sistem k a p i t a l i s m e menjadi satu-satunya jalan menuju kesejahteraan umat manusia. Manusia menjadi merasa tidak memiliki arti tanpa memiliki atau menguasai uang. Negarapun berubah fungsinya, tidak lagi menjadi penjaga bagi keberlangsungan hidup sebuah bangsa, melainkan menjadi kantor pelayanan publik, yang dalam hal ini, m o d a l.
Kondisi semacam ini membawa implikasi yang sangat luar biasa dalam membentuk cara berpikir manusia, termasuk bangsa-bangsa di dunia. Penghambaan terhadap uang (modal) dalam dunia akademis melahirkan kondisi yang amat mengerikan. Terjebaknya para cendekiawan kita ke dalam nafsu kepentingan duniawi dan kesombongan kelas, membuat mereka kehilangan daya kecendekiawanannya serta terjerembab menjadi alat pemutus terhadap kebenaran-kebenaran yang hanya bersifat kelas. Sementara di kalangan politik melahirkan apa yang sering kita sebut sebagai “politik zonder ideologi”. Akibatnyapun tidak kalah mengerikannya.
Untuk mendapatkan modal, negara atau bangsa tergadaikan melalui sebuah kesepakatan yang tertuang didalam surat perjanjian yang bernama “konstitusi”. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai perubahan konstitusi di banyak negara terkait dengan masuknya modal dan hutang luar negeri.
Karenanya, konstitusi tidak lagi menjadi penunjuk jalan serta penjaga dari cita-cita kebangsaan dari sebuah bangsa, melainkan, sekedar menjadi alat jastifikasi bagi keberlangsungan eksploitasi oleh kapital. Atas nama modal, semua juragan berikut budak-budaknya (tidak perduli asing maupun bangsa sendiri) beramai-ramai melakukan pemerasan terhadap konsumen untuk memenuhi hajat materialismenya. Demikian juga perselingkuhan modal dengan pejabat dan atau politisi dari sebuah negara melahirkan disfungsionalisasi negara.
Negara menjadi tidak lagi memihak kepada kepentingan rakyatnya, melainkan lebih setia kepada kehendak nafsu modal. Sebuah malapetaka politik yang membutuhkan energi besar untuk meluruskannya kembali.
Dalam situasi seperti ini, sulit rasanya menilai peran negara dilihat dari sisi konstitusi maupun sistem per-undang-undang-an yang ada.
Namun benarkah peran serta keberadaan negara menjadi tidak penting dalam sistem kehidupan global saat ini ?. Dalam kenyataannya, tidak demikian.
Bubarnya Uni Soviet, pecahnya Yugoslavia serta Chekoslovakia menunjukkan kepada kita bagaimana peran negara justru menjadi kebutuhan sekaligus harapan bagi bangsa-bangsa yang sesungguhnya sudah terbentuk jauh sebelum mereka tersatukan oleh udara Perang Dunia II. Demikian juga dengan o p e r a s i k a p i t a l di seluruh dunia. Semuanya tidak ada yang tidak melibatkan sebuah institusi yang bernama n e g a r a.
Hanya saja, bagaimana menempatkan negara agar fungsi dan perannya tetap memberikan manfaat bagi warga negaranya, ini yang menjadi persoalan.
Karenanya, memahami peta wilayah (geografi, geologi, demografi), sejarah serta budaya dari keberadaan sebuah bangsa, akan sangat membantu pemahaman kita terhadap posisi bangsa atau negara dalam konstelasi nasional, regional, maupun internasional. Hal ini yang saat ini saya rasa sangat minim sekali dimiliki oleh para pengambil kebijakan (politisi maupun birokrasi) di negeri ini. Sehingga apa akibatnya ? Kita sering terjebak kedalam berbagai kebijakan yang meski sudah dirancang serta dipertimbangkan secara masak, tetapi tetap saja tidak jelas arah dan tujuannya. Karena apa ? Karena kita tidak tahu bagaimana dan dimana kita ini sesungguhnya berdiri.
Dilihat dari peta geografis maupun geologisnya. Rasanya tak terbantahkan bahwa kita ini adalah bangsa yang sangat kaya. Spesifikasi iklim serta kandungan perut bumi yang kita miliki, aromanya menebar ke seluruh dunia mengundang rangsang nafsu kaum imperialis-kapitalis untuk datang dan mencengkeramkan cakarnya di bumi yang sekarang kita tempati ini. Tetapi yang saya heran. Kenapa sikap dan perilaku kita seperti orang miskin ?.
Memang benar apa yang dikatakan oleh para ekonom bahwa apa yang kita miliki diatas tadi baru bersifat p o t e n s i . Artinya, kekayaan kita itu belum memiliki nilai ekonomis kalau belum dilakukan eksploitasi. Dan untuk itu dibutuhkan t e k n o l o g i dan m o d a l . Karenanya, teknologi dan modal harus didatangkan ke negeri ini.
Ini betul !. Bahkan, sekali lagi, sangat betul !!.
Hanya saja, ada rasanya yang perlu saya ingatkan. Bahwa kalau mereka memiliki teknologi dan uang, artinya, mereka memiliki modal bergerak. Modal yang bisa dibawa kemana mereka mau. Sementara kita sesungguhnya juga memiliki modal, yakni modal tak bergerak berupa bahan baku dan tanah berikut iklimnya. Plus, pasar !.
Teknologi yang muaranya pada i n d u s t r i , tidak akan jalan bila tidak ada bahan baku. Dan uang hanya akan memiliki arti apabila ada transaksi. Karenanya, membutuhkan p a s a r .
Industri tanpa bahan baku, tidak akan bisa berproduksi. Demikian juga untuk menjual produksnya mereka membutuhkan pasar. Tanpa salah satu saja diantaranya (bahan baku atau pasar), yang terjadi adalah stagnasi ekonomi. Stagnasi ekonomi kalau tak segera teratasi akan melahirkan resesi ekonomi. Resesi ekonomi kalau tidak segera teratasi pula, bisa melahirkan geger !. Chaos !.
Karenanya kita tidak boleh berkecil hati, rendah diri, atau bahkan mengikuti asumsi yang sengaja mereka propagandakan bahwa apa yang kita miliki ini tidak ada harganya dalam hukum ekonomi.
Bukti yang paling nyata mengenai hal ini adalah bagaimana untuk memperebutkan bahan baku dan pasar, perang terjadi dimana-mana, yang akhirnya mencapai klimaksnya dengan meletusnya Perang Dunia II. Ini fakta !.
Bahkan di dalam zaman yang dikatakan sebagai zaman peradaban modern saat ini, lihat saja kasus Irak. Kalau tidak untuk mendapatkan minyak murah, apakah penguasaan sekutu yang dipimpin oleh Inggris dan AS ini untuk menegakkan kehidupan demokrasi di tanah Irak ?. Lihat saja bagaimana Irak di bawah pimpinan AS saat ini ?. Apakah lebih baik dari masa sebelumnya ?. Apakah demokrasi horor, yang setiap harinya harus meminta darah rakyat Irak yang ingin di bangun di sana ?.
Demokrasi macam apa yang ingin dipertontonkan AS di Irak kepada dunia ?!.
Bukan demokrasi !. Melainkan minyak !.
Demikian juga dengan isue nuklir Iran yang akhir-akhir ini menjadi sorotan utama berbagai media di dunia. Bukankah ini merupakan terjemahan dari keinginan Iggris dan AS untuk menguasai kembali Iran seperti pada zamannya Syah Palevi, dimana atas kendalinya, kontrol terhadap negara-negara Arab yang kaya minyak cukup ditangani oleh negara bonekanya, Iran (pada waktu itu) ?.
Karenanya, kembali kepada posisi kita sebagai sebuah bangsa. Memahami geopolitik Indonesia tidak cukup hanya dengan menghafal letak geografis serta klimatologisnya yang merupakan daerah tropis serta terletak antara lintang sekian sampai sekian serta bujur sekian sampai sekian. Terletak diantara dua benua dan dua samudera, serta memiliki beraneka ragam mineral tambang yang tersebar di sepanjang wilayah negara. Melainkan, memahami keberadaan wilayah berikut unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (peta geografis, kekayaan alam, penduduk, budaya dlsb.) sehingga mampu menjadikannya sebagai basis penguatan politik baik untuk keperluan pembuatan kebijakan yang bersifat nasional maupun internasional.
Keberhasilan Prof. Mochtar Kusumaatmaja didalam memperjuangkan keutuhan teritorial Indonesia ke dalam konvensi hukum laut internasional yang sampai kini menjadi sumber hukum kelautan PBB harus diacungi jempol. Hanya saja yang sampai kini masih menjadi persoalan bagi kita adalah bagaimana kita menyikapi keberhasilan politik luar negeri ini kedalam kebijakan politik nasional kita. Peristiwa memalukan yang mengakibatkan lepasnya pulau Sipadan dan pulau Ligitan dari peta republik ini, tidak boleh terulang kembali hanya karena kesalahan kita dalam mengimplementasikan pemahaman NKRI dalam sistem pertahanan nasional kita.
Pembangunan base-kamp militer di pulau-pulau terluar dan akselerasi pembangunan ekonomi di daerah perbatasan harus menjadi perhatian serius dalam sistem pembangunan nasional kita.
Tidak hanya pada bidang pertahanan (militer). Geopolitik sangat penting pula bagi penentuan kebijakan dalam bidang kerjasama ekonomi. Ketergantungan Rusia akan produk biji-bijian dari AS dan rempah-rempah dari daerah tropis harus dilihat sebagai peluang bagi terjalinnya kerjasama ekonomi sekaligus kesempatan untuk mendorong optimalisasi keunggulan komporative yang kita miliki sebagai negara tropis. Karenanya, langkah yang diambil oleh presiden Megawati didalam memainkan peran geopolitik Indonesia kedalam sebuah kerjasama bilateral dengan Rusia dalam hal ini kasus imbal-beli pesawat tempur Sukhoi dengan CPO, patut kita jadikan sebagai pendorong keyakinan bahwa untuk mendapatkan teknologi tinggi tidak harus dengan menggenggam valuta asing.
Lagi pula, kerjasama bilateral yang bertumpu kepada saling ketergantungan semacam ini bisa dipastikan tidak saja akan membawa dampak positip secara ekonomis saja, tetapi, sering justru melahirkan efek politis yang sering pula tidak kalah pentingnya dari nilai ekonomisnya itu sendiri.
Rusia memainkan kekayaan minyak dan gas buminya untuk memainkan peran politiknya di Eropa. Demikian juga AS, berhasil menghancurkan Uni Soviet dengan embargo biji-bijiannya, yang akhir-akhir ini dipakai pula untuk mengancam Korea Utara dalam kasus nuklir Korea Utara.
Membangun negeri tanpa memperhatikan hal ini, terlebih lagi mengimpor secara utuh model pembangunan dari luar, sulit rasanya bisa kita mengerti.
Persoalan yang sebenarnya harus kita jawab dalam dunia liberal-kapitalistik yang homoeconomicus dewasa ini adalah bagaimana geopolitik, termasuk didalamnya potensi ekonomi (kekayaan alam dan jumlah penduduk), mampu dijadikan sebagai sebuah kekuatan di dalam melakukan kerjasama internasional.
Prof. Mochtar Kusumaatmadja, Megawati Soekarnoputri, Prof. Yohanes dan sederet panjang nama yang lainnya tak mungkin kita sebut satu persatu, sudah terbukti mampu melakukannya.
Kenapa kita justru lebih memilih menjadi pelayan modal yang sangat setia ?!?.
Sementara rakyat hidup dalam ketidak-menentuan apakah ia masih hidup sebagai sebuah bangsa, atau justru bangsa atau negara ini sesungguhnya sudah tidak ada karena tidak mampu lagi melindunginya ?.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    atul said,

    Astaga!!!!!!!!

    Hoiiiiiiiii…. tolong jaga INDONESIAku!!!!!!!!!

  2. 2

    pada dasarnya…
    Indonesia Negara yang besar dan Hebat, Bahkan dunia mengakuinya Melalui sosok seorang “GAJAH MADA” dan “SOEDIRMAN” dan sampai kapanpun akan menjadi bangsa yang HEBAT…
    pada kenyataanya…….
    para koruptor-koruptor, mafia politik dan para penghianat bangsa yang bertopengkan jas-jas dan atribut lainnya tetap berdiri tegak di atas singgasana pemerintahan…bukan rahasia, bahkan sudah sangat kasat mata TETAPI kenapa tetap dibiarkan?????
    pada akhirnya…
    semuanya kembali kepada HATI NURANI masing-masing bahwa itikad untuk MENJAGA BANGSA kita bukan sekedar omong kosong belaka, tetapi harus dengan wujud yang nyata…realita…bukan sekedar angan dan mimpi…
    semoga KITA bersama bisa menjaga NKRI ini dari semua Yang merongrong keutuhannya,,,
    dan semoga TAK ADA YANG SIA_SIA DARI PERJUANGAN PANJANG PARA PAHLAWAN BANGSA KITA YANG TELAH GUGUR….

    INDONESIA TETAP INDONEIA….DAN SAMPAI KAPANPUN AKAN TETAP HEBAT MENJADI INDONESIA


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: