IKHLASKAH KITA

Ramadhan, yang kerap kali kita lalai untuk memanfaatkannya, adalah kesempatan terbaik kita untuk meningkatkan kadar amal ibadah kita. Kesempatan emas untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT (taqarruf ilallah) dengan memperhatikan kadar keikhlasan amal kita. Ada dua syarat diterimanya sebuah amal ibadah.

Apabila amal itu dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah SWT semata, dan amalan itu dilakukan berdasarkan syariat yang telah ditentukan Allah ataupun sunnah dari Rasulullah SAW.

Kata ikhlas memiliki makna yang erat kaitannya dengan aqidah, yaitu melaksanakan aktivitas semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya.

Menggantungkan segala kehidupannya hanya kepada Allah. Ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagai motivasi selain Allah.

Dengan demikian amalnya tidak tercampuri oleh motivasi-motivasi lain, seperti pujian, harta, ketenaran atau ambisi-ambisi keduniaan lainnya.

Ikhlas merupakan bentuk kesempurnaantauhid karena itu riya’ (yang juga dikenal sebagai syirik kecil) merupakan lawan dari ikhlas.

Anjuran ikhlas dalam Al-Qur’an disebutkan melalui beberapa firman Allah yang berbunyi, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kataatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus. “(Al-Bayyinah:5).

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk:2)

Yang dimaksud amal yang benar adalah amal yang sesuai dengan syariat. Sedang yang dimaksud dengan amal yang ikhlas, adalah amal yang ditujukan kepada Allah semata.

Dalam hubungan dengan ikhlas ini, Imam Ghazali berkata, “Manusia semuanya mati kecuali yang masih hidup adalah orang yang berilmu tetapi umumnya orang yang berilmu itu tertidur lelap kecuali yang terjaga, yaitu orang yang berilmu dan beramal. Tetapi orang yang beramal itu pula sering tergoda atau terpedaya kecuali yang tidak terpedaya, yaitu hanya orang yang ikhlas tetapi ingatlah bahwa ikhlas itu berada di dalam keadaan yang amat sulit ibarat telur di ujung tanduk”.

Begitu sulit, sehingga sering kali kadar ikhlas ini terkontaminasi. Dan celakanya lagi, kadang kita tidak menyadari konsekuensinya terhadap amal-amal kita.

Karena itu, sebagai Muslim kita dituntut kesungguhannya untuk terus mengevaluasi keikhlasan kita terhadap amal-amal agar Allah SWT menerima amal-amal tersebut.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian ….” (Al Baqarah:264).

Ikhlas sebagai hasil dari tarbiyah shaum sangat diperlukan dalam mereformasi kehidupan manusia menuju kepada kedamaian dan ketenteraman.

Ikhlas akan senantiasa memelihara kesinambungan amal-amal kita setelah Ramadhan berakhir.

Ikhlas juga berdampak mencegah salah satu penyakit hati, yaitu sikap munafik. Telah banyak referensi yang menggambarkan balasan bagi orang-orang munafik.

Puasa yang dilakukan tanpa keikhlasan, akan menyebabkan seseorang tidak bisa menjauhkan diri dari segala perbuatan maksiat. Ia berpuasa, tetapi masih senang mengumpat, mencaci ataupun berbohong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: