Tempat-tempat yg perlu di’antisipasi’ gempa

Peta regangan by W Triyoso, 2006Sebelum pada ribut-ribut, skali lagi ya … Indonesia itu memang sudah jadi juragan gempa dan tempatnya gempa sudah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Kalau masih belum jelas mengapa banyak gempa, ya baca yang disini dulu. Nah kalau sudah tenang terusin baca info baru yang ini. )

Dibawah ini aku cuma ndongeng tentang penelitian terbaru (2006) oleh Pak Wahyu Triyoso Phd dari ITB – Institut Teknologi Bandung. Menurut penelitian Pak Wahyu, saat ini memang masih ada tempat-tempat “penumpukan” tenaga yg suatu saat akan dilepaskan.
Haiyak ini tenaga mirip seperti ketapel, kalau di jawa wektu kecil aku bilangnya “plintheng“. Kalau ditarik makin lama makin keras regangannya. Kalau ketapelnya baru ditarik dikit maka kalau dilepas ya getarannya dikit aja. Kalau regangannya besar tentunya kalau dilepas tenaganya juga semakin besar. Sama halnya dengan gempa, hanya saja kalau gempa ini ditekan, bukan ditarik. Jadi karena ditekan lama-lama tenaganya menumpuk, setelah penahannya ngga kuwat maka akan dilepaskan tenaganya … duerr ! terjadilah gempa !.

Pasti kamu langsung nggembor buru-buru nanya …. “Waktunya kapan mas ? Bisa diprediksi nggak ?” sekali lagi belum ada yg mampu mempredisksi kapan terjadinya gempa. Hingga saat ini secara praktis tidak mungkin memprediksi akan datangnya gempa besar dalam orde tahun, apalagi hari, opo maneh jam brapa ?

Nah Pak Wahyu dari ITB ini menghitung berdasarkan asumsi pergerakan plate Australia yg bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm per tahun. Pak Wahyu menggunakan data pengukuran GPS (Global Positioning System), alat ini mengukur pergerakan tanah baik besaran dan arahnya. Gambar disebelah kiri ini menunjukkan kondisi pre-seismic, atau mudahnya ya ini adalah basis data awalnya. Coba lihat titik-titik awal dari gambar panah itu menunjukkan dimana lokasi stasiun GPS dipasang. Jadi semua GPS station yg di Indonesia HARUS benar-benar kita jaga bersama-sama.

Nah garis itu menunjukkan besarnya tetapi bukan absolut sesuai dengan skala yg terlihat digambar looh ya … Kalau cuman digambar 10 senti ya ngga nampak nanti garis arah pergerakannya. Jadi garis itu hanya menunjukkan proporsi pergerakannya saja. (Klick aja gambarnya untuk memperbesar)

Dengan menggunakan metode geostatistik modeling disebelah ini Pak Wahyu berhasil membuat model yang sesuai dengan data pengukuran. Lihat pengukurannya yg digambar merah, dan garis panah hitam merupakan pemodelan yg beliau lakukan. Ini sebuah cara untuk melihat bagaimana distribusi data pengukuran pergerakan dari GPS ini secara lateral. Sehingga dengan geostatistik modeling ini beliau berhasil membuat model distribusi pergerakannya.

Geostatistik ini sebenernya sama saja dengan statistik biasa. Hanya saja distribusinya dalam ruang spasial. Kalau statistik yg biasa kan kita memilki rata-rata, dan dalam geostatistik ini akan dilihat seperti apa distribusinya dalam peta (spasial). Skali lagi arah garis itu bukan absolut menunjukkan gerakan atau pergeserannya looh ya. Ini dipanjangkan supaya kita mudah melihatnya saja.

Mengapa geostatistik ?intro dikit tentang geostatistik ya …

Misalnya saja (ini sekedar contoh) kita memilki data jumlah murid SMP, dan kita juga memilki jumlah guru SMP di seluruh Daerah Istimewa Yogyakatya. Nah kalau dilihat dengan statistik biasa saja mungkin terlihat bahwa 1 guru membawahi 40 murid, nah ini ideal, dan cukup OK utk lapuran keatasan kan. Tapi ketika dilihat distribusi dengan geostatistik, distribusinya ternyata murid-murid ini kebanyakan berada di daerah kabupaten Bantul dan Wonosari, tapi gurunya kebanyakan berada di Kodya Yogyakarta. Lah rak mleset, ta !. Setelah dilihat detilnya, di Kodya Jogjapun ternyata gurunya terbanyak di sekitar Kotabaru. Waaah lah ini mesti sekitar SMP Negeri V. Pantesan muridnya pinter-pinter, soalnya disitu “gurune klumpuk” ndik sekolahan siji iki…. Setelah dilihat detil lagi ternyata kebanyakan guru yg ngajar ilmu sosial, … waaak! pantesan pelajaran fisika dan ilmu buminya merosot ! Aku yang kerja di geologi perminyakanpun jadi sulit nerangin tentang gempa. Padahal mengenal gempa itu ilmu yg harus dimengerti orang Indonesia, terutama yg tinggal di sepanjang pantai selatan Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Timor, trus ketimur sampai Irian, balik lagi ke Maluku dan Sulawesi … (looh itu rak semua sak Indonesia Raya, kecuali kalimantan tengah doank ya )

Hehehehe ini contoh saja.
Maksudku sederhana saja yang disebut rata-rata itu perlu tapi harus tahu distribusi spasialnya juga kan ? Jangan semua di Indonesia ini disama ratakan. Ada tempat yg penduduknya lebih perlu tahu tentang ilmu kelautan, ada yg lebih perlu tahu ilmu pegunungan. Masing-masing tempat juga memiliki potensi sumberdaya alam sendiri-sendiri yg harus dimengerti oleh penduduk lokal. Apalagi sudah ada otonomi daerah. Jadi kalau semua aturan diseragamkan malah enggak karu-karuwan.

Nah demikian juga untuk arah pergerakan tanah yg diukur dengan GPS. Satu pulau Sumatra yang besar jumlah titiknya tidak harus sama dengan satu pulau kecil. Penempatan GPS ini harus “merata” sesuai dengan kondisi setempat. Dan itu sudah dilakukan oleh Bakosurtanal yg memiliki data pengukuran ini. Jagonya GPS Indonesia ini dulu Pak Jacob Rais (guruku di UI dulu). Juga nantinya pemasangan juga tidak trus dipasang setiap 100 Km atau setiap 10 Km, tapi tergantung dari daerah masing-masing.

Setelah diketahui distribusi stressstrain-nya, maka bisa dilihat daerah-daerah yg berpotensi gempa. Ingat ini daerah berpotensi gempa, ini bukan peramalan gempa, awas kalao ada yg melintir ya!. Sama halnya kalau saya bilang lereng yg curam itu rawan longsor, tapi bukan berarti aku menyatakan di daerah ini akan longsor besok sore, kan ?. Jadi daerah daerah yg kemarin sudah bergetar dan terrelease (terlepas) maka tidak lagi menjadi ancaman. Sedangkan daerah-daerah penumpukan stress ini menjadi tempat dimana diperkirakan akan menjadi tempat sumber getaran.

Mas, berapa Skala Righter getarannya ?
…. Tuuuh kan, mesti buru-buru udah nggembor pingin tahu terus kaaan ?

Memang besarnya tenaga yg sudah numpuk memang segitu, katakanlah regangan-nya 10, tapi apakah kalau dilepaskan harus sekali gus sepuluh BRUK !, belum tentu kan ? bisa saja getarannya kemudian terlepaskan dengan gempa kecil-kecil beberapa kali. Ini mirip dengan ketapel yang memiliki sepuluh karet. Kalau karet yang satu dengan yang lain ukurannya berbeda dikit, maka karet yg sudah jelek ini akan putus duluan. Hehehe aku dulu wektu kecil suka ngrangkep karetnya sampai lima, tapi ketika ditarik kok pedot (putus) satu … jret !. Wuik, hampir kena mata euy !. Sama juga dengan potensi gempa ini. Bisa saja lepas dikit-dikit. Itulah sebabnya gempa-gempa yg telah terjadi itu, seperti juga gempa Jogja kemarin, buntutnya juga masih dilihat dan direkam terus, karena disitulah akan dihitung berapa jumlah regangan yg sudah terlepaskan. Baik oleh gempa utama, maupun gempa susulannya.
Jadi belum tentu regangan besar mengakibatkan gempa berkekuatan besar. Walopun harus disadari bahwa potensi itu jelas ada lah yaw. Seperti juga lereng yang sangat curam dan tinggi tadi, kalau sangat curam tentunya bisa longsor besar, tetapi bisa juga rontok kecil-kecil. Nah mudah-mudahan rontok kecil-kecil saja berulang-ulang sampai stabil kembali.

Jadi kita harus gimana kalau sudah tau ada potensi gempa ?
Yang jelas kalau kita sudah mengerti potensi bahaya disuatu tempat, itu saja. Ya, trus bekerja seperti biasa dan waspada. Takut ? Yang namanya manusia itu kan mesti punya rasa takut. Yang lebih menakutkan itu rasa takut itu sendiri kan ? Coba tengok Fear Factor, kadangkala yg kita takutnya sebenernya bukan apa-apa kan ?

Nah, buat pemerintah tentunya lain. Pemerintah mestinya bisa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yg terjadi . Misalnya dengan lebih rajin latihan gempa (earthquake drill), earthquake drill ini kan perlu juga bagi yang akan menolong, bukan hanya yang akan mengalami, kan?. Trus mungkin pemerintah bisa memasang alat-alat perekaman dan pemonitor GPS, dan masyarakat juga harus ikut menjaganya.
Nah yang diatas itu baru sebagian kecil dari Indonesia. Itu masih hanya Sumatra bagian selatan, selat sunda dan Jawa Barat. Lah yang lain ? Bukan berarti daerah lain sudah bebas gempa looh ya. Jangan Lengah ! Nah disitulah pentingnya penelitian. Masih banyak daerah-daerah lain juga perlu diperhatikan. Perlu penelitian, perlu alat-alat, perlu juga pemikir-pemikir.

Nanti kalau pemikir-pemikir itu sudah selesei meneliti, biasanya mereka itu menggunakan bahasa dewa yg susah dimengerti ya … Nah, aku nanti yang kebagian mendongeng saja ya ?

)🙂

referensi : Understanding Shallow Crustal Strain Loading & Probable of Strain Energy Releasing, Wahyu Triyoso, PhD Seismologist, 2006.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: