Brigif Kostrad Terlibat ”Pertempuran Kota”

KETIKA sinar matahari baru saja terbit, terdengar suara pesawat helikopter. Namun, para petani yang sedang bercocok tanam di lembah kawasan kompleks Kota Baru Parahyangan, Padalarang, tidak melihat helikopter tersebut. Mereka menengadahkan kepalanya, dan mencoba melihatnya dari bagian tebing yang permukaan tanahnya lebih tinggi. ”Teu aya helina euy,” tutur seorang petani, sambil membersihkan tangannya.

Petani lainnya berbisik memberitahu tentang adanya sejumlah ”tentara misterius” yang sejak pagi mondar-mandir di kawasan dalam kompleks. Seorang petani menudingkan jari telunjuknya ke arah atap genteng sejumlah rumah. Terlihatlah “tentara misterius” yang sedang bersembunyi.

Beberapa menit kemudian, suara helikopter terdengar lagi. Dari bukit yang lebih tinggi terlihat helikopter sedang ”mengendap”, menurunkan puluhan tentara, lengkap dengan persenjataannya. Dengan teknik pendaratan fastropping, mereka menurunkan 49 personel.

Tiba-tiba suara ledakan terdengar di punggung bukit arah utara dan selatan. Para tentara yang baru diturunkan dari helikopter itu terus berlarian. Pasukan bergerak mengikuti aliran sungai kecil dan terus menaiki lembah. Pada daerah terbuka, mereka bergerak cepat untuk menghindar tembakan sniper musuh. Mereka memanfaatkan semua benda yang ada di alam sebagai tempat perlindungan sambil terus bergerak.

TENTARA lain yang terus merangsek naik ke bukit, melakukan penembakan ke arah kompleks Tatar Jingga Nagara. Saat pasukan mulai merapat ke pintu gerbang kompleks, terjadi baku tembak dengan pasukan musuh Agresor Musang yang bersembunyi di kompleks tersebut. Granat asap pun dilemparkan di dekat pintu masuk kompleks.

Rentetan letusan senapan AK 47 buatan Rusia dan M 16 serta desingan peluru memekakkan telinga. Tentara yang tergabung Peleton Pengintai Tempur (Tontaipur) Brigade Infantri (Briggif) Kostrad ini, akhirnya melakukan penyerangan jarak pendek. Pasukan Tontaipur berhasil melumpuhkan musuh.

Setelah musuh dapat dihancurkan, pasukan segera merebut dan menguasai daerah perkotaan tersebut. Selanjutnya, pasukan Tontaipur berlari mengejar musuh yang bersembunyi di Situ Lembang. Pasukan Tontaipur mengejar ke lokasi itu, dan menyergap Agresor Musang. Pasukan musuh berhasil dihancurkan.

Jangan kaget, pertempuran tersebut sebenarnya hanya simulasi. Menurut Komandan Pusdikpassus, Kol. Inf. Nugroho Widyotomo, latihan ini merupakan salah satu materi pada pembentukan pasukan Tontaipur angkatan IV. Pasukan dilatih selama 4 minggu di Pusdikpassus Batujajar, Bandung. Selain membina mental, Pusdikpassus juga memberikan kemampuan-kemampuan militer. “Pertempuran tidak hanya secara bergerilya di hutan, tetapi dapat juga terjadi di daerah perkotaan. Karena itu, digelar simulasi pertempuran kota ini,” tutur Nugroho.

Wadanlat Mayor Inf. Susilo menjelaskan, pasukan itu sebelumnya menjalani latihan di Sanggabuana Kostrad. Setelah dilatih di Pusdikpassus, mereka akan melanjutkan pendidikan di TNI AL di Surabaya. Tujuannya, untuk mengasah Tontaipur Kostrad agar memiliki kemampuan melakukan infiltrasi ke daerah musuh yang berada di daerah perairan. ”Mereka dipersiapkan sebagai pasukan yang andal di darat, laut, dan udara,” kata Susilo. (CW-10/Achmad Setiyaji/”PR”)***

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    siHarri said,

    Bro, ud dinas dmn skrg ?
    salam kenal


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: